Di era digital, kebiasaan membaca buku cetak mulai tergeser oleh penggunaan gawai. Banyak siswa lebih memilih membaca ringkasan online daripada membaca buku secara keseluruhan. Hal ini tentu praktis, namun berpotensi mengurangi kemampuan memahami isi bacaan secara mendalam. Membaca buku secara penuh memungkinkan siswa untuk memahami alur, konteks, dan gagasan utama yang mungkin tidak ditemukan dalam ringkasan singkat.
Guru bahasa Indonesia di beberapa sekolah kini mulai mendorong siswanya untuk kembali membiasakan diri membaca buku cetak. Mereka mengadakan program pojok literasi, tantangan membaca bulanan, dan diskusi buku. Meskipun tidak mudah di tengah dominasi teknologi, upaya ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi siswa.
Kutipan:
Hal ini tentu praktis, namun berpotensi mengurangi kemampuan memahami isi bacaan secara mendalam.
Pertanyaan:
Mengapa penulis menggunakan kalimat tersebut dalam teks?